Gunung Sadahurip adalah sebuah gunung kecil terisolir yang terletak di Desa Sukahurip , Kecamatan Pangatikan, Kabupaten Garut. Tingginya yang 1463 meter di atas permukaan laut, membuat gunung mungil ini tampak menyolok di kejauhan, begitu kita memasuki Kecamatan Wanaraja dari arah Garut . Bentuknya yang mirip dengan bangunan piramida, ditambah dengan mitos penduduk setempat tentang keanehan dan keangkerannya, apalagi diperkuat oleh bisikan-bisikan ghoib, membuat Yayasan Turangga Seta yakin bahwa G. Sadahurip adalah sebuah piramida budaya yang dibangun oleh nenek moyang kita.

Keyakinan mereka kemudian dituangkan dalam suatu hipotesa yang menyimpulkan bahwa selain di G. Sadahurip, terpendam bangunan piramida budaya di gunung-gunung berbentuk piramida lainnya di Jawa Barat antara lain G. Kaledong dan G. Haruman , keduanya di Garut, dan G. Lalakon di Bandung. Hipotesa mereka ini tentu saja mengundang kontroversi khususnya bagi kalangan ilmuwan kebumian mengingat geomorfologi model piramida yang merupakan produk dari proses geologi dan gunung api sangat umum ditemukan di banyak penjuru dunia.

Walaupun demikian , berkat semangat dan kemahiran Yayasan Turangga Seta dalam menyosialisasikan hipotesanya dan memanfaatkan nama besar dari beberapa pakar ilmu kebumian yang di awal penelitian mereka ikut berpartisipasi, maka akhirnya Staf Khusus Presiden Bidang Bantuan Sosial dan Bencana di Binagraha terpancing untuk ikut nimbrung melalui tim bentukannya yaitu Tim Bencana Katastropik Purba. Tim inilah yang beberapa waktu lalu mengklaim telah menemukan Piramida Sadahurip, yang selain tertinggi dan terbesar di dunia, juga tertua yaitu lebih dari 6000 tahun sebelum Masehi.

Pernyataan-pernyataan lainnya yang tak kalah kontroversialnya kemudian dilemparkan ke masyarakat luas antara lain tentang temuan pintu masuk ke ruang piramida di perut G. Sadahurip , dan yang terakhir tentang kehebatan para pendiri piramida yang diyakini telah mampu memindahkan seluruh kandungan batuan yang sebelumnya menyusun lembah Batu Rahong untuk dijadikan bahan bangunan Piramida Sadahurip.

Pernyataan terakhir ini yang sebetulnya dapat dijelaskan dengan konsep ilmu rupa bumi atau geomorfologi mengindikasikan bahwa Tim Bencana Katastropik Purba tidak dilengkapi dengan tenaga ahli kebumian yang mumpuni, yang selain dapat membaca dan menerjemahkan gejala alam yang telah dan sedang terjadi, juga dapat menjaga martabat dan kehormatan institusi kepresidenan yang seharusnya selalu kita junjung tinggi.

Gunung Sadahurip asli bentukan alam

Kepastian bahwa G. Sadahurip merupakan bentukan alam murni tanpa campur tangan manusia, apalagi tenaga ghoib, didapat setelah penulis melakukan pengamatan geologi langsung di lapangan pada tanggal 8 Januari 2012. Dalam kegiatan ini tim penulis didukung dan dikawal oleh Dan Ramil 1103 Wanaraja Garut, Kapten TNI Didi Suryadi beserta beberapa orang anggotanya , dan Sekretaris Desa Sukahurip, Bapak Syarip Hidayat. Target pengamatan pertama adalah morfologi G. Sadahurip yang tampak simetris sempurna dari arah Wanaraja, tetapi ternyata menjadi tidak simetris dari arah selatan / Kampung Cicapar.
G. Sadahurip tidak berbentuk piramida dilihat dari Cicapar
G. Sadahurip tidak berbentuk piramida dilihat dari Cicapar

Pengamatan selanjutnya difokuskan kepada fenomena geologi yang ditemukan di sepanjang perjalanan , dari mulai Kampung Cipacar sampai ke puncak G. Sadahurip dan kemudian turun ke Kampung Sokol. Singkapan batuan yang ditemukan berupa batuan beku andesit dalam bentuk aliran lava dan batuan intrusif yang masif , yang di beberapa tempat melapuk meninggalkan struktur kulit bawang atau kekar tiang.

Pelapukan mengulit bawang di lereng Sadahurip dengan batuan asli kolom-kolom andesitis
Pelapukan mengulit bawang di lereng Sadahurip dengan batuan asli kolom-kolom andesitis

Selain dari itu, ditemukan juga batuan piroklastika hasil kegiatan gunung api yang kebanyakan telah lapuk . Dengan variasi batuan semacam ini yang sangat umum ditemukan di morfologi gunung berbentuk piramida, maka dapat disimpulkan bahwa G. Sadahurip adalah sebuah gunung api kecil yang utuh dengan bentuk menyerupai piramida. Fenomena semacam ini oleh van Bemmelen disebut sebagai lava dome (The Geology of Indonesia, 1949) dan oleh Arthur Holmes sebagai cumulo dome (Principles of Physical Geology, 1984).

Metode penelitian geologi sederhana yang penulis uraikan ini sebetulnya merupakan materi kuliah Geologi Dasar di seluruh Fakultas Geologi di Indonesia yang seharusnya dipertimbangkan oleh Tim Bencana Katastropik Purba dalam melaksanakan penelitiannya. Dengan demikian maka pemakaian beragam peralatan super canggih seperti geolistrik superstring, georadar, foto satelit 3 D – IFSAR resolusi 5 meter, dan bahkan penentuan umur dengan metode Karbon C-14 atau radiocarbon dating yang tentunya telah menguras dana dan tenaga yang tidak kecil akan dapat dihindari.

Antara bisikan ghoib dan pertimbangan ilmiah

Dalam wawancaranya dengan VIVAnews pada tanggal 15 Februari 2011, Yayasan Turangga Seta yang didirikan sekitar tahun 2004 mengakui bahwa metode penelitian yang mereka terapkan banyak didasarkan atas kepekaan beberapa anggotanya terhadap kehadiran ghoib yang mereka sebut sebagai parallel existence (penulis menyebutnya sebagai bisikan ghoib). Mereka terkesan bangga menyebut timnya sebagai MIT atau Menyan Institute of Technology dengan argumentasi bahwa dalam melakukan perburuan situs prasejarah , yang mungkin dengan ritual pembakaran kemenyan untuk mengundang roh, mereka kadang-kadang mendapat sokongan informasi lokasi dari informan tak kasatmata (VIVAnews, 17 Maret 2011).

Dengan keyakinan semacam itu maka dapat dimengerti mengapa dalam sosialisasi pertamanya di hadapan Wagub Jabar tanggal 3 Maret 2011, Yayasan Turangga Seta terkesan kurang senang ketika penulis dan Drs. Lutfi Yondri M.Hum., pakar arkeologi dari Balar Bandung, memberikan masukan ilmiah , padahal maksudnya agar Yayasan Turangga Seta yang sebagian besar anggotanya masih muda-muda dapat lebih berhati-hati , baik dalam melakukan penelitian ataupun dalam prosedur dan perizinannya (sesuai dengan isi Undang-Undang Cagar Budaya No. 11 Tahun 2010).

Masukan serupa tetapi sedikit lebih keras diberikan lagi kepada perwakilan Yayasan Turangga Seta ketika memperkenalkan hipotesanya di Jurusan Tambang ITB pada tanggal 6 Mei 2011 yang dihadiri juga oleh penulis dan Drs. Lutfi Yondri M.Hum. Pernyataan mereka ketika itu cukup tegas bahwa mereka lebih percaya kepada bisikan ghoib atau parallel existence dari pada pertimbangan ilmiah.

Selain peringatan secara langsung, sanggahan melalui media internet dan media cetak dilayangkan juga antara lain oleh Mang Okim (milis IAGI 20 Maret 2011 : Piramida G. Lalakon di Bandung, Akhir Sebuah Harapan), Dr. Ir. Budi Brahmantyo M.Sc. (PR 3 Agustus 2011: Gunung Lalakon, Sebuah Karya Alam), dan lain-lain. Artikel dan tulisan berikut lampiran gambar-gambar yang menjelaskan dan menyanggah hipotesas piramida tersebut dan telah dikutip oleh Google, dipastikan telah dibaca juga oleh Yayasan Turangga Seta.

Selain dari itu, beberapa pakar geologi terkemuka di Indonesia yang pada awalnya mendampingi dan mendukung secara sukarela penelitian mereka, kemudian menarik diri setelah menyadari adanya penyimpangan metode dan arah penelitian mereka dari kaidah-kaidah ilmu kebumian yang baku (pengakuan Dr.Ir.Danny Hilman M.Sc. di Nasional, 4 April 2011, dan bantahan keras Dr.Ir. Andang Bachtiar M.Sc. di FB karena nama dan reputasinya dimanfaatkan secara tidak benar). Dengan adanya sanggahan dan bantahan dari para pakar tersebut, maka sungguh sulit dimengerti bahwa Staf Khusus Presiden Bidang Bantuan Sosial dan Bencana justru terpengaruh dan bahkan mendukung penuh kegiatan eksplorasi dan penggalian arkeologi yang di beberapa lokasi diketahui melanggar ketentuan dan prosedur yang digariskan dalam Undang-Undang RI No. 11 Tahun 2010 .

Pelajaran berharga bagi kita semua

Gencarnya issue tentang Piramida G. Sadahurip ini , yang oleh masyarakat Garut diartikan sebagai adanya bangunan piramida dan/atau kandungan harta karun di perut G. Sadahurip, membuat aparat Kecamatan Pangatikan dan Desa Sukahurip di Garut menjadi sibuk luar biasa. Selain karena membanjirnya para pengunjung ke puncak G. Sadahurip sejak sekitar 6 bulan terakhir , yang ketika penulis mendaki gunung ini pada tanggal 8 Januari 2012 jumlahnya mencapai lebih dari 200 orang, beberapa instansi terkait dan Pemkab Garut tentunya tak kalah sibuknya melayani permintaan dan pertanyaan para pejabat di Jakarta tentang issue piramida tersebut.

Wisatawan yg penasaran isu piramida melewati lereng Sadahurip dengan lapisan lava andesitis
Wisatawan yg penasaran isu piramida melewati lereng Sadahurip dengan lapisan lava andesitis

Hikmah dari semua itu adalah meningkatnya minat masyarakat dan para pelajar untuk mendaki sampai ke puncak G. Sadahurip melalui jalan setapak dan lereng terjal yang tidak ringan. Untuk melayani pengunjung, paling sedikit tiga warung jajanan telah dibangun mendadak oleh penduduk setempat di lereng G. Sadahurip. Hal ini memberikan indikasi bahwa masyarakat sangat mendambakan sarana wisata minat khusus yang sebetulnya bisa diciptakan oleh para pemangku kekuasaan kalau mau.

Sehubungan dengan itu, maka walaupun G. Sadahurip bukan bangunan piramida budaya, alangkah baiknya kalau minat masyarakat khususnya para remaja dan pelajar yang dengan semangat pantang menyerah mendaki sampai ke puncak G. Sadahurip dapat dipertahankan. Dengan anggaran yang tidak seberapa dan bahkan melalui kerja gotong royong, jalan ke puncak G. Sadahurip dapat diatur dengan membuat tangga-tangga sederhana. Pemandangan alam dilihat dari puncak G. Sadahurip sungguh luar biasa antara lain G. Kaledong dan G. Haruman serta beberapa gunung lainnya yang bentuk piramidanya tak kalah indahnya dari G. Sadahurip.

Kerucut G. Kaledong dan G. Haruman yg merupakan sisa-sisa gunung api purba, juga disangka piramida. Segede ituuu?
Kerucut G. Kaledong dan G. Haruman yg merupakan sisa-sisa gunung api purba, juga disangka piramida. Segede ituuu?

Dan kepada Staf Khusus Presiden Bidang Bantuan Sosial dan Bencana, pesan moral yang kiranya perlu disampaikan adalah agar tidak terjun terlalu jauh dalam masalah-masalah yang sebetulnya dapat dilakukan oleh lembaga dan instansi serta institusi pendidikan terkait. Alangkah ironisnya bahwa hilangnya bangunan sangat penting di puncak G.Sadahurip yaitu beton Trianggulasi T 74 yang dibongkar karena dikira mengandung harta karun, lepas dari perhatian, padahal hukuman bagi pencurinya di zaman kolonial Belanda begitu berat.

Bandung, 12 Januari 2012,

Sujatmiko ( Sekjen Kelompok Riset Cekungan Bandung dan anggota IAGI )

source: http://blog.fitb.itb.ac.id/BBrahmantyo/?…

Silahkan disimak kuliah yang sangat menarik tentang pelajaran yang diperoleh dari kejadian gempa dan tsunami Tohoku 2011 di Jepang
Ini linknya

Tadi ke kantor imigrasi Sapporo untuk mengurus Certificate of Eligibility, dokumen yang diperlukan bagi istri dan anak2ku untuk mengurus visa agar bisa segera datang ke Sapporo. Cukup melelahkan ternyata..:) Pertama, salah turun stasiun pas berangkat, jadi harus jalan lagi yg lumayan ckp jaun..:D, sebenarnya dh sering ke kantor ini tapi biasanya naik sepeda, naik kereta jd disorientasi..:p. Kedua, dokumen yang dibutuhkan ternyata kurang, harus menunjukkan surat nikah dan akta lahir anak yang asli. Jadi ya, meski sekarang sdh diproses Certificate of Eligibility-nya, namun masih tetap harus menunjukkan surat nikah dan akta kelahiran anak2 yang asli.. Artinya harus minta dikirimin dokumen2 itu dr Indonesia… Nah ini yang lebih ‘lucu’, ketika pulang naik kereta dari stasiun dekat kantor imigrasi, harusnya di stasiun Odori turun dan ganti kereta yang menuju Sapporo stasiun, namun untungnya terus sadar dan turun di stasiun selanjutnya.. Habis itu harus beli tiket lagi untuk balik naik kereta ke arah Sapporo stasiun..:p

Untuk info saja, berikut link tentang dokumen2 dan persyaratan pengurusan Certificate of Eligibility di kantor Imigrasi Sapporo

Download dokumen

Supporting dokumen

Tsunamis are often accompanied by natural signs that can be sensed by an alert person. Recognizing any of these tsunami warning signs at the beach could save your life.

Feel
Do you FEEL the ground shaking severely?
Strong earthquakes may cause tsunamis. RUN to high ground if you feel strong shaking.

See
Do you SEE the water withdraw an unusual distance?
As a tsunami approaches land, the ocean may pull back a long way from the shore, exposing the ocean floor, reefs and fish. RUN to high ground if the sea withdraws.

Hear
Do you HEAR a strange roar?
A roaring sound from the ocean is sometimes heard before a tsunami arrives. RUN to high ground if you hear a strange roar.

Run

  • Run to high ground if you experience any one of these signs.
  • Do not wait for all of the signs to occur before leaving the area.
  • Authorities may not have enough time to issue an official Tsunami Warning so do not wait for official evacuation orders.

Do not try to surf the tsunami.

For more information
See this Tsunami Smart pamphlet

(this is the link source)

Tahun ini genap 7 tahun setelah peristiwa gempa dan tsunami yang melanda Aceh. Kita benar2 terhenyak akan peristiwa tsb, dan peristiwa itulah yang juga telah menyadarkan akan pentingnya study dan penelitian paleotsunami dilakukan di Indonesia, karena masih pendeknya catatan sejarah tsunami yang pernah melanda kepulauan kita pada masa lalu. Tulisan di bawah ini menegaskan akan perlunya penelitian paleotsunami untuk dilakukan di Indonesia.

—–

Oleh Alex Pangestu  | 25-07-2011 | http://ngi.cc/nqj | alam dan lingkungan

Tsunami yang melanda Aceh pada 2004 lalu bukan tsunami pertama yang pernah terjadi di Serambi Mekah. Berdasarkan riset yang dilakukan LIPI, Aceh pernah dilanda tsunami pada sekitar 600 tahun yang lalu.

Penelitian dilakukan dengan menganalisis endapan paleotsunami di daerah Meulaboh, Nanggroe Aceh Darussalam. “Dari situ terlihat bahwa pernah terjadi tsunami besar di Aceh sekitar 600 tahun silam,” jelas Eko Yulianto, peneliti LIPI, pada Senin (25/7).

Data yang diungkapkan oleh Eko ini menepis anggapan bahwa Aceh belum pernah dilanda gempa Bumi di atas 9 skala Richter sebelum tahun 2004. “Sayang, hal ini ditemukan setelah musibah 2004. Jika ditemukan lebih cepat, sebenarnya jumlah korban gempa dan tsunami bisa diminimalisir,” kata Eko.

Pendapat Eko didukung oleh Brian F. Atwater dari USGS. Brian memperkirakan bencana yang sama pernah terjadi pada sekitar tahun 1800. “Gelombang tsunami Aceh pada 2004 bukan yang pertama,” katanya.

Pangandaran

Eko juga melakukan penelitian di tebing dekat Sungai Cikembulan, Pangandaran, Jawa Barat. Hasil penelitian menunjukkan empat lapisan pasir yang disebutnya bisa menjadi bukti awal bahwa area tersebut pernah beberapa kali dilanda tsunami. Salah satu lapisan berupa lapisan pasir tebal yang terendap di atas lumpur mangrove. Dalam lapisan itu terdapat cangkang Foraminifera.

Temuan itu mengungkapkan bahwa kurang lebih 400 tahun yang lalu, di wilayah ini pernah terjadi tsunami. “Skalanya jauh lebih besar daripada tsunami 2006 lalu,” kata Eko yang pakar paleotsunami. (Sumber: UGM)

100 real per jam

Desember 26, 2011 |  Tagged , , , | Leave a Comment

Anak kecil itu menemui ayahnya yang payah karena kerja. Sebab, dari pagi hingga sore dia mengontrol berbagai proyek dan kontraknya. Dia tidak punya waktu untuk diam di rumah selain untuk makan dan tidur.
Anak    : “Ayah, kenapa engkau tidak lagi bermain denganku dan bercerita kepadaku Aku sangat merindukan cerita-ceritamu dan ingin bermain denganmu. Bagaimana pendapatmu bila hari ini engkau bermain sebentar denganku dan bercerita satu kisah kepaku?”
Ayah      : “Anakku, ayah tidak punya waktu untuk bermain dan membuang-buang waktu. Karna ayah punya banyak pekerjaan dan waktuku sangat berharga.”
Anak    : “Berilah aku satu jam saja dari waktumu, karena aku sangat merindukanmu, wahai ayahku.”
Ayah      : “Anakku tercinta, ayah bekerja dan berjuang untuk kalian. Dan waktu satu jam yang engkau inginkan agar ayah habiskan bersamamu itu bisa ayah pakai untuk mendapatkan penghasilan tidak kurang dari 100 real.  Jadi, ayah tidak punya waktu untuk sesuatu yang sia-sia bersamamu. Ayo, pergilah dan bermainlah bersama ibumu.”
Hari demi hari berlalu dan kesibukan sang ayah semakin bertambah. Suatu hari anak itu melihat pintu kantor ayahnya terbuka, maka ia masuk menemui ayahnya.
Anak    : “Ayah, berilah aku 5 real.”
Ayah      : “Untuk apa? Setiap hari aku memberimu uang 5 real. Untuk apa uang sebanyak itu? Ayo, pergi dari hadapanku. Ayah tidak akan memberimu apa-apa sekarang!”
Si anak pun pergi dengan perasaan sedih. Sementara sang ayah duduk sambil berfikir tentang apa yang akan dilakukannya terhadap anaknya. Dia pun memutuskan untuk pergi ke kamar anaknya untuk menghiburnya dan memberikan 5 real kepadanya.
Anak kecil itu sangat gembira menerima uang 5 real tersebut. Kemudian anak itu langsung menuju ranjangnya dan membuka bantalnya. Lalu dia mengumpulkan uang yang ada di bawahnya dan mulai merapihkanya. 5 real untuk melengkapi jumlah uangnya.
“Ayah, sekarang  ambilah uang 100 real ini dan berilah aku satu jam dari waktumu,” ujar bocah yang polos itu.
Subhanallah…. Begitu berharganya waktu meski hanya satu jam bagi anak-anak kita. Yang dibutuhkan mereka bukanlah semata harta tetapi perhatian dan cinta. Mereka membutuhkan belaian kasih sayang, kecupan cinta orang tua dan perhatian.
(dikutip dgn sedikit perubahan dari http://www.fosasantri.co.cc)
Hmmm, baca tulisan tsb tiba2 tdk sadar air mataku menetes, mungkin anak2ku juga merasakan seperti yg anak dlm cerita itu rasakan,, namun insyaAllah meskipun jarak Sapporo - Pemalang sangat jauh namun kasih sayang dan perhatian papa ga akan pernah lepas.. Anak2ku, papa sangat kangen ma kalian, insyaAllah sebentar lagi kalian menyusul ke sini.. Thanks to my lovely wife atas segala kesabaran dan pengertianmu.. I love you all..

Posting pertama

Desember 25, 2011 |  Tagged , , | Leave a Comment

Assalamu’alaikum wr wb

Saya akan gunakan blog ini untuk bercerita apa saja, khususnya dlm bidang geology (lbh khusus lagi geologi kebencanaan), tentang perjalanan kehidupan saya, dan juga tentang hal2 yang lainnya. Cuma sekedar sharing, syukur ada yang menanggapi dan berdiskusi, lebih dari itu blog ini untuk mencurahkan segala isi hati..:D

Kegagalan Kapitalisme

Fakta membuktikan, bahwa ekononomi dunia di bawah sistem kapitalisme, sangat tidak menentu. Terpaan krisis terus menerus terjadi dan senantiasa membanyangi ekonomi berbagai negara di dunia.  Depresiasi nilai tukar  dan inflasi yang tak terkawal menjadi  kenyataan yang destruktif bagi perekonomian banyak negara.  Pendeknya, sistem ekonomi konvensional (kapitalisme) yang diterapkan saat ini telah secara nyata menunjukkan kegagalannya dalam menciptakan kesejahreaan ekonomi umat manusia.

Kenyataan yang tragis itu diakui  oleh Michael Camdessus (1997), Direktur International Monetary Fund (IMF) dalam kata-kata sambutannya pada Growth-Oriented Adjustment Programmes (kurang lebih) sebagai berikut: “Ekonomi yang mengalami inflasi yang tidak terkawal, defisit neraca pembayaran yang besar, pembatasan perdagangan yang berkelanjutan, kadar pertukaran mata uang yang tidak seimbang, tingkat bunga yang tidak realistik, beban hutang luar negeri yang membengkak dan pengaliran modal yang berlaku berulang kali, telah menyebabkan kesulitan ekonomi, yang akhirnya akan memerangkapkan ekonomi negara ke dalam krisis ekonomi”.

Penyebab utama ketidakstabilan dan tingginya inflasi, adalah karena sistem mata uang yang tidak adil saat ini,  menggunakan sistem mata uang hampa (kertas ) tanpa kontrol dan tanpa back up, yang disebut dengan fiat money. Kegagalan dan kezaliman sistem fiat money, telah mendorong para pakar ekonomi yang kritis  dan cerdas untuk memikirkan kembali keberadaan uang fiat yang selama ini digunakan secara luas di berbagai negara. Desakan aplikasi dinar tidak saja dari kalangan ekonom muslim, tetapi juga dari para guru besar ekonomi Barat yang Katolik seperti William Shakespeare, Rodnet Wilson keduanya dari United Kingdom, dan banyak lagi para ekonom yang meyakini keunggulan dinar. Para ilmuwan tersebut sepakat bahwa  keberadaan uang fiat yang berlaku saat ini diyakini menjadi salah satu penyebab utama (biang kerok) terjadinya krisis ekonomi, ketidakstabilan ekonomi dan inflasi tinggi yang tak terkawal.

Sampai pada tahun 1971, pencetakan mata uang kertas, masih di back up oleh dinar (emas) sesuai dengan perjanjian  Bretton Wood yang disepakti  tahun 1944. Tetapi pada tahun 1971 Presiden Amerika Serikat,  Nixon, membatalkan perjanjian tersebut. Sehingga mata uang kertas dicetak tanpa back up emas.

Terjadinya krisis di Amerika dan dibatalkannya perjanjian  Bretton Wood   oleh Presiden Nixon tersebut, merupakan awal tidak di-back up-nya dollar dengan emas.  Sejak saat itu pula, tidak satu pun negara di dunia memback up mata uangnya dengan emas. Sehingga mata uang yang berlaku bersifat fiat atau dekrit dan ini disebut dengan istilah managed money standard.

Sejak berlakunya sistem managed money standard ini, ada empat  fenomena yang memudhratkan  yang terjadi dalam perekonomian. Pertama, tingkat inflasi yang tinggi dan terus menerus, Kedua, nilai tukar yang tidak stabil yang membuat perekonomian mengalami volatil yang menggelisahkan siapapun, Ketiga, ketidakadilan dalam sistem nilai tukar, di mana dolar (kertas) yang tak bernilai secara intsrinsik ditukar dengan limpahan kekayaan negara-negara berkembang, seperti emas, minyak, dan hasil bumi lainnya. Amerika Serikat mencetak kertas-kertas menjadi uang yang bernilai secara nominal, membuat negara tersebut makin perkasa dan berkuasa secara ekonomi. Dolar dicetak tanpa ada pengontrol dari lembaga manapun dan mengekspor uang kertas tersebut ke seluruh dunia. Keempat, Spekulasi yang makin meningkat.

Pembatalan  Sistem Bretton Woods, telah membuka peluang perdagangan valuta asing, dan kegiatan tersebut telah berkembang secara spektakuler. Volume yang diperdagangkan di pasar dunia meningkat dari 5 miliar USD perhari di tahun 1973 menjadi melebihi 900 miliar USD di tahun 1992, kebanyakan transaksi bersifat spekulatif dan kurang dari 2% yang dipergunakan sebagai pembayaran perdagangan. (Martin Khor, Globalization and the South: Some Critical Issues”, 2000,. hal. 10).

Berdasarkan kenyataan yang sangat zalim tersebut, maka umat manusia di jagad ini, (bukan saja kaum muslimin tetapi juga negara-negara dan umat non muslim), harus berupaya keras untuk keluar dari lingkaran kezaliman sistem moneter tersebut. Solusinya ialah kembali menerapkan mata uang dinar.

Sementara itu, berdasarkan data yang dimiliki sebuah NGO ekonomi di Amerika Serikat, volume transaksi yang terjadi di pasar uang (currency speculation dan derivative market) diperkirakan mencapai lebih dari USD 1.5 triliun hanya dalam sehari, atau USD 400 triliun setahun, sedangkan volume transaksi yang terjadi pada perdagangan dunia di sektor real hanya USD 6 triliun setiap tahun.  Meningkatnya transaksi di pasar uang yang bersifat semu, mengakibatkan ketersediaan uang terus menggelembung, sementara nilai nominalnya tidak didukung oleh nilai intrinsiknya.

Kondisi itu  mengakibatkan terjadinya ekonomi balon atau penggelembungan ekonomi atau disebut juga dengan bubble economy dimana laju pertumbuhan sektor moneter jauh lebih tinggi dibandingkan dengan laju pertumbuhan sektor riil yang cenderung terabaikan. Fenomena ekonomi balon ini merupakan salah satu faktor yang memicu terjadinya krisis nilai tukar di negara-negara Asia pada Tahun 1997.

Dalam beberapa dekade, fakta empiris menunjukkan bahwa tidak ada satupun dari negara muslim yang berstatus negara berkembang memiliki rezim moneter konvensional yang stabil. Kondisi ini menghendaki munculnya politik ekonomi Islam rasional dan strategis yang dapat membangun rezim moneter Pan Islami dalam kerangka pasar Islami. Misi ini tidak bisa dihindari, harus segera mendapat respon dari ahli ekonomi Islam dalam konteks menemukan garis panduan rezim moneter Pan Islami yang mumpuni.

Peran makro ekonomi dan kerangka keuangan islami dan mekanisme moneter perlu untuk disusun, dijadikan teori dan model, khususnya untuk mengeliminir semua bentuk manifestasi status quo politik ekonomi yang telah menyebabkan keterbelakangan umat.

Secara praktis, implementasi manajemen moneter dengan mekanisme ”bunga” di bawah sistem moneter fiduciary  (uang kertas) telah menyebabkan, tidak hanya inflasi tinggi, ketidakstabilan nilai kurs, serangkaian kriminal bisnis sepanjang periode 1971-1990, tetapi juga frustasi tidak tercapainya tujuan sosio ekonomi, pertumbuhan optimal, kesempatan kerja penuh, distribusi yang merata dan stabilitas makro ekonomi.

Memberlakukan Kembali Dinar Emas

Setidaknya ada beberapa   hal yang melatarbelakangi munculnya wacana penggunaan mata uang emas sebagai alat tukar. Pertama, alasan ketidakmampuan nilai mata uang sekarang menghadapi krisis sebagaimana yang terjadi pada tahun 1997, Kedua, ketidakadilan system moneter rezim uang kertas yang didominasi Amerika Serikat dan yang ketiga, untuk mengurangi hegemoni USD sebagai alat tukar di seluruh dunia dan mengurangi ketergantungan kepada Amerika serikat

Gagasan tentang Dinar Emas Islami sebenarnya berasal dari Profesor Omar Ibrahim Vadillo, pendiri Organisasi lnternasional Morabeteen tahun 1983 di Afrika Selatan yang dikenal luas sampai ke Eropah. Organisasi ini yak-in bahwa kesatuan dunia Islam tidak akan tercapai kecuali melalui persatuan ditingkat ekonomi. Untuk itu perlu dibangun suatu kesatuan pasar Islami dengan mempergunakan satu mata uang yaitu Dinar Emas Islami anggota Morabeteen.

Wacana penggunaan dinar sebagai alat tukar juga digagas dan disetujui oleh Perdana Menteri Malaysia Mahathir Muhammad, sejak tahun 1999, bahkan beliau tampil sebagai pelopor di kawasan Asia Tenggara untuk pelaksanaannya. Beberapa pernyataan  DR. Mahatir Muhammad dalam Seminar “The Gold Dinar in Multilateral Trade” (1999) di Kuala Lumpur perlu disimak. Namun sebelum itu ada baiknya kita perhatian cuplikan wawancara beliau pada Executive Inielligence Review, Lyndon H. LaRouche’s publication, tahun 1999, sebagai berikut :

” … A new kind of imperalism where the weapon used is realy capital – capital that can be used to impoverish countries to the point where they have to beg for help and when they beg, then you can impose conditions on them, and then one of the conditions, of course, is that you must open up the economy and allow all the foreign companies to come in and operate freely.”

Read more